Di akhir perang (Nadin Amizah); dapat aku simpulkan bahwa: ternyata tidak denganmu pun aku bisa, tidak denganmu pun aku mampu, tidak denganmu — aku berhasil mencipta jatuh suka paling sederhana.
Kembali aku tulis tentang seseorang yang lalu, seseorang yang pernah dan seseorang yang telah. Pernah menjadi satu yang aku harap, ku tatap penuh cinta, ku perlakukan penuh kehati-hatian dan kini telah usai.
Pernah jatuh berkali-kali dibuatnya, hingga babak belur — sekarat akhirnya. Hingga aku mulai memahami, kembali mencintai yang seharusnya aku lakukan sebelum ini; diriku. Aku tahu, jika bukan denganmu, maka ku mulai dengan diriku.
Aku tuliskan pula tentang seseorang yang lain. Bukan baru, sebab — untukku dia tidak pernah menggantikan siapapun. Seseorang yang berhasil, seseorang yang kini dan seseorang yang sedang. Dia berhasil mengambil kendali akan keras kepalaku, berhasil temani bahkan ikut mengangkat pedang, dia berhasil membawa kemenangan bahkan dengan cara yang tenang.
Dalam paragraf ini, juga aku tulis tentang sebuah lagu. Lagu yang rasanya seperti sebuah medali, cawan emas; piala kemenangan. Juga seperti pelukan setelah lelah mendera. Ini bukan lagu yang meminta kita untuk segera pulih, bukan lagu yang memaksa untuk cepat sembuh, melainkan sebuah pemberitahuan — berita kemenangan.
Di Akhir Perang milik Nadin Amizah. Lagu sederhana, alunan lembut namun menyimpan makna yang begitu dalam.
Kini aku tahu, menemukan cinta yang baik layaknya ikut dalam sebuah peperangan. Di mana kita bisa terluka dan harus bangkit dalam waktu yang tidak sebentar. Di mana harapan seakan bisa melambung tinggi dan patah dalam hitungan detik. Hingga takut menjadi sahabat terbaik saat malam tiba.