Cawan terangkat, berikan sebuah penghormatan; Aku menang.
Aku menemukan jalanku. Berjalan pelan, tidak lagi terburu-buru. Akan aku tunggu hingga siap.
Senyum kecil mulai hadir beberapa kali. Awal yang baik, pikirku. Akan aku buat hitam menjadi warna yang indah. Tidak perlu lagi secerah jingga, namun tetap menghangatkan. Tidak seindah biru, namun tetap menenangkan. Tidak sepenuh merah, namun tetap memiliki kasih. Sederhana.
Aku tidak lagi berperang dengan tanya, tidak lagi sibuk dengan mencari jawabannya. Ruangku memang masih gelap, dan akan selalu gelap. Sebab gelap menjadi tenang yang paling jujur.
Cawan terangkat, sedikit menunduk untuk memberikan sebuah penghormatan pada kekalahan. Dagu kembali terangkat, tidak terlalu tinggi tapi cukup untuk menunjukkan diri;
Aku menang.
Nyatanya aku tidak pernah menggantikan dia. Dia masih ada pada porosnya. Berputar, menjadi nama atas luka yang belum benar usai, namun pasti akan selesai. Hanya saja kini aku sudah melupakannya dan akan berdamai dengan lukanya.