Rasa pahit yang berhasil menguasai: hati, pikiran, dan Aku.
Masih dengan kegiatan yang sama. Aku pikir, ini akan menjadi patah hati yang cukup lama. Bukan apa, sebab patah hati sebelum dia juga masih berbekas lukanya. Bekas samar yang mulai aku terima dengan berdamai bersamanya.
Rasa pahit ini sukses memenuhi diri. Berlangsung lama, dengan perayaan yang hanya aku sendiri orangnya. Aku memang mulai tenang, walaupun pertanyaan masih saja membayang. Masih belum terima singkatnya.
Presensiku mulai terlihat, hanya sapaan singkat beberapa kali. Namun cukup memberikan kesempatan pada sembuh. Aku memulai kembali, dari awal. Menutup semua akses, hanya ada aku dan diriku bersama luka yang belum mengering sepenuhnya.
Aku (mulai) hadir kembali.