Burung datang membawa kabar, bukan kelegaan melainkan luka baru yang tumbuh; Aku dilumpuhkan.

Beberapa minggu berlalu, aku masih dengan aku. Dan dia entahlah, aku pikir hanya aku yang masih tenggelam, aku masih dipeluk mimpi buruk yang panjang.

Belum ada satu bulan, ku pikir. Maaf, aku berhenti menghitung pada hari kedua, sebab luka masih sama menyakitkan. Ditemani beberapa lagu setelah seminggu hanya hening yang menyampaikan presensi.

Setidaknya ada suara lain selain isakan, bukan? Ah.. patah hati memang buruk!

Hari yang sama; gelap. Aku menerima sebuah kabar. Ku pikir ini akan menjadi akhir, sialnya awal dari luka baru yang tumbuh. Lagi dan lagi aku kalah; telak dilumpuhkan.

Benar bukan, setiap orang memiliki masanya dalam berduka. Sebab kamu dan dunia barumu yang berwarna cerah, terlihat begitu menyilaukan untuk hitam dan abu-abu duniaku.

Maaf saja, untuk kembali meraih tawa, tak sengaja aku menumpahkan begitu banyak warna; mencampurkan semua warna. Menjadi satu, hitam.

Aku lelah.