Gelap adalah luka yang paling jujur; gulita menjadi penutupnya.

Aku pikir, ini akan mudah. Aku tidak perlu lagi menunggu kabar, menahan amarah, mengubur kecewa, menelan pahit keinginan, atau hal lain yang membuatku terlihat menyedihkan.

Hari kesatu setelah semua berakhir, aku masih menghubunginya, bersikap bodoh menolak kenyataan. Aku dan dia baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan kami.

Nyatanya, hanya dia yang terlihat baik, tanpaku.

Orang-orang tahu, aku masih dengan kegiatan yang sama: membuat cuitan, membalas obrolan, menyelesaikan yang harus diselesaikan, tertawa seakan ini memang lelucon. Dan aku memang melakukannya: duduk di ruangan gelap, tanpa ekspresi, tanpa tawa yang terdengar, hanya kebingungan.

Hanya belum terbiasa, pikirku. Dengan banyak pertanyaan yang belum mendapatkan jawabannya. Apa yang salah? Bagaimana bisa? Kenapa begini? Dan seandainya yang terus menerus berulang di kepala.

Warasku, mulai hilang kendali.

Dan mulai hari kedua, aku kalah. Air mata memulai perlombaan, sesak yang mampir setiap malam, isakan terdengar lirih;

aku menghilang.