Kamu berbalik arah, sementara Aku memohon hentikan langkah.
Tiba-tiba.
Semua terjadi dengan tiba-tiba. Tidak ada peringatan, alarm berdering nyaring, atau lampu berubah menjadi merah. Kita: aku dan kamu, berada tepat di tengah persimpangan. Ada begitu banyak jalan, keras kepalanya aku memilih ikuti langkahmu yang kian lebar setiap jengkal nya.
Kamu berjalan pelan, sementara aku berlari cepat. Takut-takut monster jahat yang kerap hadir di kepala menjadi nyata. Dan sialnya, iya..
Aku menahanmu, memohon agar kamu tetap di sini. Kamu menolak, menutup jalanku dengan, “maaf karena memaksa untuk bersama.”
Setidaknya, tunjukkan jalan yang benar. Jalan yang tidak akan pernah kamu lewati, jalan dimana tidak akan ada kemungkinan-kemungkinan kecil aku dan kamu akan bertemu bahkan hanya untuk berpapasan; tanpa tatap atau suara.
Aku hanya diam, melihatmu berbalik arah; melangkah jauh. Tidak ada air mata, awalnya. Sesak memang, tapi tidak apa-apa. Biar saja begini, biar aku tersesat hingga jalan kutemukan dengan lapang.